Privilase

 

Banyak yang ngomonin soal privilase di twitter beberapa hari yang lalu. Gua gak yakin juga sih apa yang jadi pencetusnya karna udah jarang buka twitter, tapi kata netijen ini bermula dari photoshot Gigi Hadid di Elle Magazine, dan dia bilang “I come from privilege, and I recognize my privilege”. Nah, jadi rame deh.  Seperti biasa komentar soal privilase  beragam, ada yang ngerasa bahwa orang yang punya privilase lebih diuntungkan, ada juga yang ngerasa bahwa privilase yang ada gak sengaruh itu buat kesuksesan mereka. Orang-orang yang tipe kedua ini berpendapat bahwa berada pada tempat mereka saat ini adalah karna kerja keras semata.

Soal privilase ini udah jadi hal yang menarik saat gua mulai kuliah, kayaknya karna gua belajar di FISIP trus ditambah konsentrasi jurusan gua adalah media studies yang banyak banget bersinggungan dengan kehidupan sosial. Saat itu yang lebih gua kenal lebih ke konsep adanya kesenjangan antara satu individu dengan yang lainnya karena latar belakang yang berbeda. Misalnya seseorang yang lahir dari keluarga kaya akan lebih mudah mendapatkan akses pendidikan dengan kualitas yang lebih baik dari anak yang lahir dari keluarga dengan pendapatan di bawah UMR. Hal ini jadi seperti lingkaran setan, karena anak yang lahir dari keluarga miskin ini tidak memiliki akses pendidikan yang berkualitas sebaik si anak orang kaya sehingga anak orang miskin ini menjadi manusia dengan kualitas yang kurang oke juga sehingga pekerjaan yang didapatkan kemungkinan adalah pekerjaan dengan kerah putih dengan pendapatan yang pas-pasan dan itu akan mempengaruhi kehidupan anaknya. Siklus yang sama akan berjalan ke anaknya sampai ada hal yang membuat si orang miskin ini bisa memiliki akses yang sama, misal si anak dikasi beasiswa untuk dapat penididikan yang  berkualitas. That’s why it is very important all the program from government or any parties to make sure create a more equitable society. Coba klik komik ini, soalnya komik ini mengilustrasikan apa yang gua maksud dengan sangat baik.

Privilase yang berbeda akan membuat usaha yang sama menghasilkan hal berbeda. Privilase itu sendiri cakupanya lebih dari hal-hal material seperti yang ada di video di atas. Dan  buat gua, privilase gua adalah gua lahir dari keluarga yang meskipun tidak sempurna tapi mencukupi semua kebutuhan dasar hidup gua baik materi dan emosional gua.

Keluarga gua tidak melimpah secara materi, tapi kemampuan orang tua gua mengatur dan memprioritaskan uang yang gak melimpah itu membuat gua sekalipun gak pernah pusing apakah uang sekolah atau kuliah gua ada dan puji Tuhan selalu gua lancar, uang bulanan saat gua kuliah selalu terkirim tepat waktu, tidak ada kondisi yang membuat gua harus bekerja buat mencukupi kebutuhan finansial gua yang membuat gua kelelahan sehingga mengganggu gua belajar (ya meskipun akhirnya gua milih buat ngajar les privat biar dianggap mandiri, haha). Tapi jangan kira kehidupan gua wah ya, karna sampe gua kuliah gua gak belanja sesuka hati gua, jatah beli baju itu dijatah tiap tahunnya , dan nongkrong di cafe buat nugas ato ngumpul ama teman-teman, ato nonton di bioskop mah bukan jadi kebiasaan gua karna duit bulanan gak melimpah tapi selalu ada buat gua.

Kehidupan keluaga gua yang meskipun gak kayak potret keluarga bahagia kayak di sinetron tapi bisa dibilang memenuhi kebutuhan emosional gua. My mom and dad is not typical sweet parent who shower me with many sweet and expressive words, or give me  present when I achieve something, or celebrate my birthday, tapi gua gak pernah pusing karna ada pertengkaran keluarga gua yang ngebuat gua nangis atau jadi gak konsen saat gua belajar di sekolah. Mama dan bapak selalu perhatian buat gua. Gua gak pernah takut dan khawatir soal keluarga gua. Paling pernah nangis berantam hebat sama mama karna gua ngambek gak dibeliin hadphone setelah gua ngilangin handphone untuk keduakalinya.

My family is not perfect,of course there are some flaws here and there, and there were some bitterness in my life which finally could be healed just because of God ‘s grace in  not a short time, tapi buat gua lahir dari keluarga ini adalah privilase. Dalam ketidaksempurnaan yang ada, gua bisa tumbuh dengan baik, gua bisa belajar dengan baik, gua dididik dengan baik. Mama dan Bapak mengorbankan banyak hal supaya gua bisa dapat akses pendidikan yang baik. Dan kalo gak ada kakak gua yang ngebukain mata gua soal UI, ngasi trik-trik cara belajar yang baik, nyemangatin gua, mungkin gua gak pernah punya ambisi masuk UI (tapi masuk Harvard, eh, haha) yang akhirnya membawa gua untuk mendapatkan akses yang sangat baik in term of relasi, informasi, fasilitas, atau akses ke pekerjaan yang baik, sehingga membawa gua ke tempat gua yang sekarang (meskipun gua gak ada awesome-awesome nya).

Apakah artinya gua tidak berusaha sama sekali sehingga gua menjalani kehidupan gua saat ini? No. Gua bekerja keras supaya gua bisa punya akses yang gua punya sekarang. Gua gak main-main saat sekolah. I am really serious in term  of learning (I was kind of nerd). Gua baca buku. Gua ngerjain soal buat masuk PTN dengan seriusnya sampe paling jam tidur gua cuman 4 jam dalam sehari dulu.  I do my part. Gua ikut kompetisi ini itu. Gua berusaha bekerja dengan baik supaya bisa perform above expectation. I’m trying to upgrade of myself until now dan semoga seterusnya juga.

Tapi apakah gua bisa berada di tempat gua yang sekarang murni karna usaha gua? It’s a big no. Ada banyak faktor external yang di luar kuasa gua yang membuat usaha gua jadi ke boost sehingga membuat gua bisa mendapatkan hal yang bisa gua akses saat ini. Bisa aja ada orang di luar sana yang usahanya gak kalah keras kayak gua but because he doesn’t have the same privilege like mine so he gets less. Sebaliknya, bisa aja ada orang yang usahanya sama kayak gua but he gets more because he has better privilege than me.

Hal ini ngebuat gua untuk gak nge judge bahwa orang yang miskin pasti karna dia gak kerja keras. Well, kurang keras apa nelayan kerja tapi banyak yang harus hidup dengan kurang sejahtera? Ini juga membuat gua tidak menilai bahwa anak orang kaya bisa sukses  hanya karna keluarganya kaya dan menegasikan segala usahanya.  Untuk sekarang sih gua memilih untuk gak nge judge seseorang karena posisinya, karna yang akan gua apresiasi adalah bagaiman atitude dia menjalani hidup hingga dia bisa sampai di posisinya saat itu. Yang gua apresiasi adalah seberapa disipilin dan persistent, seberapa bijak dan pintar (sesuai kapasitasnya) seseorang menjalani hidup. No matter how rich and poor someone is,  if they aren’t responsible, I’ll despise them.

Ketika ada anak yang latar belakang kondisi ekonomi keluarganya kurang mampu sehingga dia harus kerja gali pasir habis pulang sekolah, dan menyempatkan diri untuk belajar pada malam hari dengan tekun, sehingga akhirnya dia bisa dapat beasiswa dan memiliki pendidikan yang baik, dan akhirnya memiliki usaha atau bekerja di tempat yang sangat baik, of course I’ll give him my salute.

And how am I seeing my privilage? I thank God for my privilage, and I don’t want to take it for granted. My race hasn’t finished yet, so I’ll use my energy to reach my goal. No matter where my position is compare to other people right now, whether I’m behind, equal, or more advanced, I’ll give my best effort.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s