Quoting Gandhi and Ray Comfort (and a little of my own thoughts)


Mahatma Gandhi –
“I like your Christ, I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ.”

Ray Comfort’s response –

“Mr Gandhi, did you ever say that you were God in human form, or did you still a storm with your voice, walk on water, raise the dead, and perfectly predict the future?

Were you morally perfect – in thought, word, and in deed?

Did you warn that you would raise all humanity from the dead and judge them? Did you raise your body three days after your death, and ascend into Heaven?

Unless I’m dreadfully mistaken, you did not. Then you too, sir, were so unlike our Jesus. You too were a sinner, desperately needing God’s mercy. I hope you were trusting in Jesus on that fateful day when death suddenly came to you. We will find out on judgement day.”

With new scandals…

View original post 329 more words

A Thought on Dad’s birthday

In not a very good condition, dad blew the candle of his birthday. Mom, K’Nova, Bg Dies, bou (my sister’s mother in law), and little Diva made a simple birthday celebration with a little cake. I thank God for His love, mercy, and presence that strength my family to face my dad’s illness. I do believe that everything is in God’s control. I also have no doubt that He does take care of my father.

But today I cannot stand to cry knowing how difficult for my dad that he does not be able to move or speak clearly. I wish I was in my home singing happy birthday, praying, strengthen my father together with the others. I wish I was I could help my mother taking care of my father. Now I am questioning why I am here in other city that far away from home. Am I being a selfish daughter that I don’t choose to work in my hometown?

Pak, I love you. I always thank God for having a father like you who shower us with so much caring. I recall the memory how you called me every morning when you were in other town or when I moved to Depok to continue my education (maybe you wanted to make sure that I already got up :P).

Thank you for all have you done for this family.

Thank you for being a good father to me and kak Nova.

Have a blessed birthday, Bapak 🙂

Cepat sembuh dan sehat selalu

I miss you…

That Love


Loving people who are nice to us is easy, but loving the difficult people is quite impossible. We hope we are surrounded by nice people who will take care of us and give us full attention. It will be wonderful if we only interact with people who will praise and listen to us. Who don’t want to interact with people who always ready to help and comfort us?

But welcome to this broken, sin-filled world where we will find many difficult people. Even they are everywhere. There will be someone who really ambitious who are willing to do anything even hurt us to go ahead. Someone who is really easy to get anger even when we do nothing wrong. There will be self-pity person who drain us with so many complain and problem that they have. Even in our ministry, there are people who have hobby to critique about how we manage the ministry with sharp and biting tongue. You name it.

Biting them, retaliating against them, or cutting them in our life looks like an easy choice that can we take. Suddenly it seems there is no other option how to handle this kind of person. In this kind of hard situation, actually we can choose to preserve instead of running away. Though it looks impossible, by God’s grace, we can keep loving the hard-to-love people God has placed in our lives.

May by learning to love these people by God’s grace, it make us evaluating ourselves that we are also a thorn in the flesh for someone close to us. This make us not oblivious to our own shortcomings and sins and make us realize how great God’s grace is.

Through this kind of people, we can learn how full of patient and kindness is our Savior who died for us though we are sinners. God love us not with blindness love, but see how wreck we are. He is really anger because of our sin. In His anger, He forgive us. His love is not stop only until forgiveness, but also change us better.

Since we hope our character will be more like Christ who full of love, these people is a mercy from God so we can learn how to love people unconditionally.

Lord, it’s not easy, but teach us how to love.



Yes, He takes care of Me


In a Passover worship and celebration in my campus, a preacher who ever helped me solving my problem asked, “Long time no see. How are you, Nida?”
I spontaneously answer: “God takes care of me, Sir.”

I don’t know why I answer like that instead of saying “I’m good” or “Wonderful”. This night I think again why. Maybe because I witness how He protects and keeps me.
Yes, He faithfully takes care of me in many amazing way.
Thank you, Lord :’)

At my home stay, May 27th 2014 @3am
this is the link of the pic



The girl                 : I realize that God gives me a perfect life. He gave me many chances so I can develop myself to be better, make myself ready to fulfill His plan on me. But I didn’t use all the opportunities seriously.

The Wise             : Why didn’t you use them seriously?

The girl                 : Maybe because I did too focus to myself. I think the opportunity is just a gift for me. It is only for my satisfaction and has nothing serious with other people or His will on me. That’s all.

The Wise             : Now you know how to be faithful to use all the chances He gave you next time.

Have I Been A Hero?

Saya sudah beberapa kali mendapat permintaan untuk menandatangani petisi di change.org oleh beberapa teman.  Tidak semuanya saya tandantangani dengan alasan ada beberapa isu yang saya anggap tidak penting. Then, are all issue that I signed really important to me? Nope. Misalnya beberapa teman terus-terusan meminta saya untuk menandatangani petisi mereka karena mereka sedang ikut kegiatan. Jadi, karena sudah sering banget si teman ini minta saya buat tanda tangan dan bilang: “Ah, masa lu gak bisa bantuin gua?” akhirnya pun saya tandangananin. Besides, I though there was no harm signing those petition.

I believe I am not the only one experience it. Saya rasa beberapa orang juga mengalami hal yang sama entah itu menandatangani petisi, bergabung di suatu group, atau “like” sesuatu. Then, lets question if one issue has many signed, is it really mean an important issue?

Ketika ada suatu tokoh mendapat banyak “like”, apakah sebenarnya tokoh tersebut memang disukai? Jawabannya bisa ya bisa tidak. Yang pasti kita tidak bisa menyimpulkan ketika suatu kasus diberi banyak dukungan maka kasus tersebut memang dianggap penting oleh orang yang memberi dukungan melalui media online.

Tidak jarang saya juga sering menandatangani petisi online atas isu yang menurut saya memang penting atau ngedukung suatu kasus dengan ngasi “like”, gabung di group tertentu, atau ngebagi informasi untuk mengajak orang mendukung isu tersebut. Tapi biasanya sekedar itu saja. Untuk turun langsung ke jalan seperti unjuk rasa, saya benar-benar enggan. Meskipun gak turun ke jalan dan hanya nge ”like” sesuatu, rasanya sudah seakan-akan berkontribusi penuh terhadap kasus itu. Padahal kalau dipikir-pikir apa sih susahnya nge-like sesuatu, tapi ntah kenapa saya ngerasa seperti pahlawan.

Ternyata itu yang dinamakan dengan  slacktivism or clicktivism, yaitu melakukan kegiatan aktivis di dunia maya. Dengan modal jari untuk menandatangani petisi online, maka kita seakan-akan telah menjadi aktivis dari suatu kasus. Slacktivism sendiri adalah gabungan dari kata slack yang merupakn bahasa slang degan arti malas, dan activist. Tanpa komitmen yang tinggi, tanpa usaha yang besar, dan tanpa resiko seseorang bisa menjadi aktivis.


Meskipun demikian, slacktivism tidak selalu bernada negatif. Buktinya seringkali apa yang dilakukan slacker berdampak postif di dunia  real. Misalnya teman saya pernah mendaptkan pendonor darah untuk korban kecelakaan dari aksinya menyebarkan informasi untuk mendapatkan darah golongan AB. Memang benar bahwa slactivism bisa memberikan dampak postif , tapi jika bisa berkontribusi di dunia secara langsung maka jangan puas jika dengan berkontribusi di dunia maya.

gambarnya aku ambil dari sini.

Jauh & Sempit

Pernah gak sibuk buat status atau tweet “selamat pagi” dengan sangat ceria, tapi bahkan lupa untuk ngucapin selamat pagi sama orang yang berada di sebelah kita? Gimana dengan ngetweet  marah-marah atau post status kasar tapi bahkan gak marah langsung dengan orang yang dituju? Meskipun cukup malu untuk mengakui, saya pernah seperti itu (tapi gak parah kok). Should I blame internet for that bad behavior? There’s so much thing to think first before decide whether internet is good or bad for us.

Di satu sisi internet memang memiliki banyak hal positif, sehingga banyak banget orang yang beranggapan bahwa dunia maya merupakan tempat yang sangat ideal. Orang-orang yang utopis yakin bahwa dengan menggunakan internet maka kondisi-kondisi ideal bisa terpenuhi. Contohnya internet memungkinkan setiap orang untuk bersuara dan memiliki kesempatan yang sama untuk didengar, maka demokrasi yang sesungguhnya pun akan bisa dicapai. Harapan-harapan utopis Marx yang menyatakan bahwa manusia seharusnya melakukan pekerjaan yang dia sukai dengan waktu dan jenis kegiatan yang bisa berubah-ubah sesuai dengan keinginan orang itu bisa direalisasikan dengan kehadirian internet.  Di dunia maya tersebut,kita bisa bebas untuk menyapa semua orang, membuat fan work, lalu nulis di blog, setelah itu nyanyi kmudian dimasukkin ke Soundcloud.  Pertanyaannya, apakah semua hal ideal tersebut terjadi?

Internet memang membuat kita bisa menyapa banya orang sekaligus. Orang yang berada jauh sekalipun bisa disapa dengan real time. Namun, perubahan yang tempaknya baik tersebut membawa dampak terhadap komunikasi di dunia nyata. Tidak jarang saat kita bersama-sama dengan orang yang sangat dekat secara emosional, kita memilih sibuk dengan gadget kita alih-alih ngobrol dengan mereka. Padahal, bukankah jika terjadi sesuatu di dunia real, maka orang yang dekat dengan kita  akan lebih mudah memberikan pertolongan pertama? Misalnya sangat ngumpul dengan ayah, ibu, dan saudara, seringkali keluarga diacuhkan namun lebih memilih sibuk dengan gadget yang menghubungakn kita dengan orang yang jauh secara baik secara jarak fisik maupun emosional. Bukankah berkumpul dan ngobrol dengan keluarga secara langsung yang sebenarnya juga memiliki waktu berkumpul bersama terbatas jauh lebih penting?

Kita tidak berkomunikasi dengan akrab dan hangat dengan orang di sekitar kita karena sibuk dengan gadget untuk membuat informasi di berbagiai media sosial yang dimiliki, tapi sebenarnya apa yang kita komunikasikan di media sosial tersebut biasanya adalah apa yang terjadi pada saat itu. Saat ngumpul makan malam dengan keluarga di suatu restoran, seringkali kita cenderung menginfokan di media sosial kita bahwa saat itu kita berada di keluarga yang hangat, meskipun hampir semua anggota keluarga sibuk dengan gadget masing-masing :p, makan  apa, dan berada di restoran mana. Pertanyaannya adalah sebenarnya apa esensi dari share  info itu di akun media sosial kita?

Nyatanya internet yang membuat setiap orang bisa didengar digunakan bukan untuk menyuarakan hal-hal yang penting, tapi lebih ekpresi-ekspresi untuk menyatakan eksistensi diri. Suara-suara yang digaungkkan di media sosial  pun terkesan sangat egois. Apa yang diinfokan hanyalah hal-hal sempit yang berkaitan dengan diri kita dan sering self-centric. Selain itu, seringkali info-info yang dibagikan juga mengandung pesan narsis tersembunyi. Contohnya kita menyatakan keindahan suatu tempat, namun sekalian menujukkan bahwa kita sedang berada di tempat tyang cukup mahal untuk ditempuh. Atau mengucapkan rasa syukur tapi sebenarnya menujukkan kepada orang banyak bahwa kita sedang mencapai sesuai—

……….., am I part of those person? Yes.

Berhati-hati dengan Info yang Dibagi

Salah satu teman saya merekomendasikan video ini untuk ditonton. Karena penasaran, saya pun menontonnya. Then, I more realize that internet is a scary platform.  Setiap informasi yang dibagikan terekam di dunia maya ini. Setiap orang bisa mengamati apa yang kita lakukan berdasarkan informasi yang dibagikan.

Sebenarnya dalam beberapa tahun terakhir saya selalu memperhatikan  dan memikirkan terlebih dahulu sebelum saya membagi informasi di dunia maya. Tapi saat ingat lagi, saya masih sering kebablasan memberitahukan informasi yang sebenarnya tidak perlu saya bagikan di dunia maya. Cukup menyeramkan membayangkan orang asing bisa tahu detil informasi tenantang saya. Sebenarnya  saya gak kepedean bahwa saya akan damati oleh orang lain :P. Tapi serem aja kalo tiba-tiba ada orang yang ngomong tentang saya trus menceritakan semuanyan tentang saya.  Setidaknya kalo emang ada orang yang berusaha mencari tahu tentang saya, maka orang itu butuh usaha yang lebih banyak untuk tahu informasi detail tentang saya. Bukan dengan melihat akun media sosial media saya trus orang tersebut bisa langsung memperoleh semua informasi detil tentang saya.

Bukan berarti pula saya perlu menarik diri dari dunia maya. Saya yakin bahwa  internet memiliki banyak sisi positif. Tapi perlu bijak menggunakannya. Masalahanya masih banyak orang (mungkin saya juga)  yang terlalu percaya dengan internet sehingga tanpa rasa takut membagikan informasi yang sangat personal di dunia maya. Privasi tidak terlalu dipedulikan. Banyak orang yang tidak tahu kalau informasi yang dibagikannya di dunia maya bisa disalahgunakan oleh orang lain. Saya sama sekali tidak ingin pengguna internet  untuk menjadi orang paranoid dan anti terhadap internet atau media sosial. Tetapi bijak-bijaklah menggunakan internet karena orang sangat mudah mengamati kita.

Share Info, Share Effect



Saya rasa hampir setiap orang pernah dapat informasi yang tidak tepat, bohong, atau salah. Gambar tersebut merupakan contoh informasi yang saya maksud. Saya menemukan informasi tersebut di akun Facebook saya. Isinya kurang lebih menjelaskan ada lintah di dalam batang kangkung, sehingga jika tidak dimasak dengan benar maka lintah tersebut akan masuk ke dalam lambung manusia, lalu lintah tersebut berkembang biak dan menghisap darah manusia dari dalam tubuh. Proses penyembuhannya pun akan sangat sulit.

Awalnya, saya mengira informasi ini tentang bagaimana memasak kangkung yang benar agar vitamin di dalam kangkung tidak hilang. Atau bagaimana memasak kangkung agar rasanya lezat. Karena saya suka memasak, akhirnya saya pun membaca informasi tersebut. The content is very surprising. Saya tertawa membaca informasi tersebut karena menurut saya hal tersebut tidak masuk akal, tapi di sisi lain saya juga merasa miris karena ada informasi semacam itu. Meskipun saya bukan ahli biologi, tapi saya yakin hal tersebut mengandung banyak hal yang salah. And yep, after searching from many sources, I find that this information is totally  “hoax”.

Media konvergensi menciptakan budaya partisan. Internet memungkinkan setiap orang mengabarkan sesuatu. Menulis berita pun tidak hanya bisa dilakukan oleh jurnalis, tetapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat biasa. Ada sisi positif sera negatif dari hal ini. Di satu sisi, masyarakat bisa berperan langung memproduksi pesan sehingga keterbatasan-keterbatasan seorang jurnalis tidak lagi menjadi halangan bagi masyarakat untuk mendapatkan berita yang utuh dan lengkap. Namun di sisi lain, hal ini memungkinkan ada banyak informasi yang tidak tepat menyebar. Setiap orang bisa memproduksi berita yang tidak benar, seperti informasi di atas. Masalahnya adalah informasi yang tidak tepat tersebut menimbulkan efek negatif. Contohnya adalah efek dari berita tentang lintah kangkung.



Saya memang tidak membuat riset apakah penjualan kangkung akhirnya menurun karena adanya infomasi ini, tetapi yang jelas informasi ini menimbulkan ketakutan bagi banyak orang yang membacanya. Ada beberapa orang yang akhirnya enggan memakan kangkung padahal kangkung sangat baik untuk kesehatan.



Jika informasi lintah kangkung ini hanya diberikan kepada sedikit orang, efeknya pun hanya dirasakan oleh sedikit orang pula. Namun pada era media konvergen ini,  informasi dapat tersebar luas dengan mudah. Begitu pula dengan informasi-informasi yang tidak benar tersebut. Maka efek negatif dari berita tersebut pun menyebar pula dengan cepat. Untuk berita kangkung lintah ini, di Facebook saja beritanya sudah dibagikan sebanyak 5,172 kali. Belum lagi dibagikan dengan platform lain. Bayangkan saja betapa luasnya informasi ini telah dibagikan, sebesar itu pula efeknya menyebar.